Jakarta
– Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia selenggarakan Kebaktian malam
purnama pada tanggal 02 Januari 2026 di Litang MAKIN Jakarta Barat Gedung
Khonghucu Yayasan Tepasalira Jl. Jembatan Gambang II No. 77, Pejagalan,
Penjaringan, Jakarta Utara.
(Foto bersama usai Kebaktian)
Tanggal
15 Penanggalan Kongzili atau disebut juga Bulan purnama merupakan momen ketika
Bulan mencapai puncak titik terang. Bukan sekedar fenomena alam, pada momen
tersebut umat Khonghucu melakukan sembahyang / kebaktian untuk mengucap syukur
atas karunia Tian.
Kebaktian
dipimpin oleh umat Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Jakarta Barat,
dimulai dengan penaikan Hio di Altar Tian dan Kidung Wei De Dong Tian,
dilanjutkan dengan pembacaan renungan ayat suci dan dilanjutkan pemaparan /
Jiang Dao dari Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo. Mengambil tema “Belajar
menjadi Manusia” Jiang Dao dimulai dengan pemaparan Ketum terkait ayat renungan
dalam Kebaktian tersebut yang diambil dari ayat Mengzi Jilid II A : 6
Menurut
Budi dasar ajaran Khonghucu adalah memanusiakan manusia “Watak dasar manusia
itu netral, tidak benar – benar baik juga tidak benar – benar buruk. Mengzi
mengatakan Watak sejati Manusia itu adalah baik, sedangkan Xun Zi mengatakan
manusia pada dasarnya adalah jahat / berkarakter buruk. Manusia itu pada dasarnya punya Watak yang
tidak seluruhnya baik dan tidak seluruhnya buruk, saya sering mengamati dalam
tingkah laku manusia dimana dari kelahirannya seorang anak mewarisi 50% gen
Ayah dan 50% gen Ibu nya. Maka sejak awal kehidupannya manusia membawa potensi
dari kedua orang tuanya yang saling berpadu, membentuk
kecenderungan-kecenderungan dasar dalam kejiwaan, emosi, dan karakter.” Jelas
Budi.
(Jiang
Dao oleh Ketum MATAKIN)
Budi
juga menambahkan bahwasannya “Belajar menjadi manusia” itu tumbuh dari perasaan
tidak tega yang menjadi bibit dari cinta kasih. Cinta kasih dan rendah hati
adalah hal yang harus ditumbuhkan setiap manusia. Nabi Kongzi semasa hidupnya
menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh, ketika bertemu orang yang bijak dan
Ia merasa perlu belajar maka dia akan belajar kebijakan dari orang bijak
tersebut, dan ketika salah Ia berbesar hati mengaku salah ketika diingatkan,
itulah yang sepatutnya kita contoh.”
Tuturnya
(Suasana
Kebaktian Malam Purnama)
“Sekarang
pertanyaannya apa yang bisa kita jadikan contoh agar kita bisa menjadi manusia
yang sebenar – benarnya manusia? Sebelum iti kita perlu lihat dulu sifat –
sifat dasar manusia yang harus ditumbuhkembangkan, seperti perasaan tidak tega
yang mendasari cinta kasih, perasaan tahu malu yang mendasari kebenaran,
perasaan rendah hati yang mendasari kesusilaan, dan rasa menyukai dan tidak
menyukai benar dan salah yang mendasari kebijaksanaan. Tentang contoh kita bisa
bercermin dari tanaman bambu dan ambil maknanya. Kita lihat tanaman bambu,
jarang sekali yang tumbuhnya tidak lurus/bengkok, maka pertama dalam hidup
adalah memegang teguh kejujuran. Yang kedua apa? kita lihat bambu itu beruas –
ruas. Orang yang mau sukses tidak bisa mengandalkan hal yang instant, semuanya
melalui proses, tahap demi tahap. Yang ketiga kita lihat isi dalam bambu itu
kosong, artinya apa? kita harus rendah hati seperti bambu yang menyisakan ruang
kosong didalamnya. Dengan menyisakan ruang kosong dalam diri akan lebih mudah
untuk menerima masukan orang lain, sehingga demikian bambu itu menjadi lentur
tidak kaku seperti kayu yang tidak mempunyai rongga kosong. Kemudian apa sifat
selanjutnya? Bambu itu multifungsi, bisa dijadikan rakit, angklung dan lain
sebagainya bahkan bisa dijadikan makanan, ketika masih menjadi rebung. Artinya
apa? kita sebagai umat Khonghucu harus bisa berguna dari lahir hingga meninggal
dunia. Dalam proses tumbuhnya bambu, tidak semua mengarah pada arah yang sama,
dalam satu rumpun masing – masing bambu tumbuh ke arahnya sendiri, dari itu
maka seorang Junzi harus rukun mesti tak memiliki pendapat dan tujuan yang
sama. Tidak hanya tentang bambu, dalam kehidupan banyak hal bisa kita jadikan
guru” papar Budi.